?

(Ditulis 10 April, 2012.)

Di benak saya selama ini, Tuhan adalah sosok maha agung yang menduduki kerajaan megah di langit ke tujuh sana. Dengan pasukan bernama malaikat, Tuhan seperti menonton miniatur-miniatur kecil bergerak yang telah Ia ciptakan sebelumnya. Belakangan saya menjadi agak gugup cenderung takut saat membuat kontak denganNya. Bayangkan dengan sentilannya saja, Ia bisa membuat saya menjadi apa pun yang dikehendaki. Dan imbasnya, komunikasi saya dengan Tuhan menjadi amat sangat kaku. Tanpa basa-basi. Seperlunya saja.

Saat sekolah menengah pertama, guru agama saya bertanya “Dari mana kalian tahu tentang keberadaan Tuhan?” – teman saya enteng saja menjawab “Orang tua sayalah yang menurunkan Tuhan ini, pak.” dengan logat ‘nyeleneh’ khas anak limabelas tahun saat itu, terang saja seisi kelas tertawa, namun entah mengapa saya hanya diam. Saya tertegun lama, dan berpikir “Apakah benar Tuhan saya ini adalah Tuhan maha agung yang memegang kendali atas laju setiap planet? Tuhan saya juga mengerti dengan jelas kombinasi partikel yang menyusun gugus semesta?” sejuta pertanyaan retoris lain mulai meneror batin saya.  Saat kelas bubar, saya masih tidak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi.

Jika ditilik lebih dalam, teman saya tadi ada benarnya. Orang tua sayalah yang mengenalkan Tuhan ini kepada anak bungsunya. Mereka mengajarkan untuk terus patuh terhadap aturan-aturan yang sudah ditetapkan jutaan dekade sebelum saya, bahkan mereka lahir. Jadi Tuhan saya ini adalah Tuhan turunan dari generasi jauh entah-kapan-pun-itu-dimulai. Itulah mengapa saya tidak mengenal betul Tuhan saya ini. Lewat pengenalan “paksa” sistem keluarga saya, Tuhan menjadi momok menakutkan yang harus terus saya patuhi tanpa banyak cincong. Daripada nasib menjadi buburb (?), lebih baik saya diam.

Atas dasar penasaran, lalu siapa Tuhan sebenarnya?

Panggil saya sok tahu, atau apa saja yang kalian mau, tapi baru saja saya berkenalan dengan “Tuhan”. Kami berbincang soal masa depan. Tuhan mulai mengenalkan kepada saya tentang kepedihan. Di sanalah kami berkenalan. Rasa itu menjadi obat atas segala “penyakit” yang saya derita selama ini. Tuhan menyarankan saya untuk mengesampingkan sebentar masalah perasaan, katanya untuk mencapai titik yang akan saya pijak, air mata dan keringat adalah hal mutlak yang harus saya hadapi, alami, dan lewati.

Lewat kebetulan-kebetulan yang Tuhan berikan juga saya mengalami hal-hal menakjubkan. Jadi siapa Tuhan saya? Entahlah.

Advertisements

One thought on “?

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s