Bintang

(Ditulis 31 Maret, 2012.)

Semesta seakan bercerita lewat sinar terang di ujung sana. Oleh orang bilang sebuah matahari lain di tempat yang sangat jauh jaraknya. Malam ini, di langit belakang rumah, bertabur beberapa bintang yang mengalihkan perhatian. Entah hanya perasaan sendiri, atau memang bintang-bintang sekarang sudah mulai berkurang? Entah. Saya ingat betul, sewaktu kecil, setiap malam saya lalui di bawah sejumput sinar bintang. Tidak jarang saat listrik padam, saya bersama keluarga membuat tenda di depan rumah dan menghabiskan malam bersama (sudah saya bilang, saya tinggal di kota kecil yang tidak banyak memberi pilihan hiburan).

Alasan saya melihat bintang malam ini bukanlah karena sedang ikut serta gerakan #EarthHour seperti orang kebanyakan, tapi karena saya merasa kesepian. Ya, kesepian. Saya mencari seseorang yang sudah tidak ada lagi di bumi ini. Ibu saya. Terdengar bodoh, tapi saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi mengobati kekosongan ini. Saya hampir gila. Beban hidup yang tak kunjung surut, membuat saya putus asa. Keluwesan imajinasi mungkin jadi penyebab. Saya takut akan mengecewakan orang-orang yang sudah memercayai saya selama ini. Saya takut akan menjadi manusia tak bermanfaat. Atau bahkan manusia yang dimanfaatkan. :s

Berawal dari mitos yang berkata, saat seseorang sudah meninggalkan dunia ini, dia akan menjadi satu dari jutaan bintang di langit. Maka sekadar ingin ‘mempraktikan’ mitos tersebut, satu demi satu bintang saya runut, namun tetap saja bingung bintang mana yang merupakan jelmaan sosok ibu saya. Semakin keras berusaha, saya semakin merasa bodoh. Para bintang ini seolah berkedip dan berkata, “sudahlah”.

Dunia ini seperti sebuah misi ekspedisi. Misal ada satu goa yang sedang diteliti seluk-beluknya. Setiap sudut semacam dilapisi tebal selimut. Tidak tahu ke mana ujungnya. Pribadi manusia itu sendiri yang harus menemukannya. Bisa dibayangkan saat sejumlah orang harus ber-ekspedisi bersama. Menemukan jalan keluar lewat diskusi, tolong menolong, dan pada akhirnya ego lah yang meracuni manusia untuk mementingkan diri sendiri. Berharap menjadi manusia pertama yang menemukan jalan keluar, bahkan tidak lagi memedulikan manusia lain. Ya, inilah hidup. Saling menyingkirkan, saya rasa. Ekspidisi saya di sini masih sangat panjang. Saya masih harus memanjat, menyelam, melompat, dan berlari supaya saya menemukan ‘jalan keluar’ tadi. Saya pasrah jika nanti saya lah manusia yang gugur di tengah jalan, toh dengan begitu saya akan menjadi bintang dan memandang kalian sambil berkata “sudahlah”, bukan? Selamat malam. :)

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s