Soal Tempat Makan

(Ditulis 05 Januari, 2012.)

Makan. Mengasupkan sejumlah bahan makanan ke dalam tubuh sudah menjadi kebutuhan pokok yang tidak dapat dikesampingkan. Pagi, siang, sore, malam berbagai jenis makanan masuk lewat mulut, tenggorokan, usus, okay, buka saja buku biologi bab pencernaan. Tujuan makan juga sekarang sudah sangat beragam. Ada orang yang sangat mementingkan kandungan gizi, nutrisi dan segala macam vitamin di dalam makanan tersebut, atau hanya masuk ke dalam mulut yang penting ‘kenyang’. Bhak, tergantung pilihan, gaya hidup atau hidup gaya?

Di sekitar kita juga banyak sekali tempat makan yang menawarkan konsep yang beragam. Mulai dari yang njelimet aja sampai yang njelimet banget. Ada tempat makan (dalam hal ini food court) yang tingkat keribetannya bikin darah naik sampai langit-langit. Biar saya jelaskan, saat masuk ke area food court, kita diwajibkan sebelumnya untuk menukarkan uang cash milik kita menjadi ‘kertas‘ yang bertindak sebagai uang di area sekitar 400 m2 itu. Ribet? Banget. Kertas itu nantinya kita gunakan sebagai alat transaksi pembayaran di berbagai stand makanan di food court tadi. Jika si ‘kertas’ tidak habis terpakai bagaimana? Ya, sebelum pergi dari tempat penyalah aturan ketatanegaraan tentang transaksi pembayaran itu, kita akan menukarkan kembali ‘kertas’ tadi menjadi uang cash sejumlah nominal tersisa yang tertulis di ‘kertas’, dengan mengantre tentunya. Wasting time? Moron!

Bergeser ke tempat lain, ada satu resto dengan konsep food court. Jadi, saat masuk ke resto tersebut, kita diberikan semacam kartu debit, fungsinya? Untuk digesekan ke salah satu stand saat memesan makanan. Nantinya makanan apa yang kita pesan akan masuk ke database resto itu. Ribet? Banget. Oh, di sana kita juga diharuskan berkeliling untuk memesan makanan yang hendak kita makan (Sekali lagi, ini resto). Makanan dipisahkan berdasarkan jenis yang beragam ke berbagai stand. Olahan nasi, chines food, sea food, minuman dan lain-lain sebagainya. Padahal semua masih merupakan produk dari resto itu. Wasting time again, Another moron!

Sekali lagi ini masalah konsep. Semua tampak berlomba-lomba tampil beda untuk menjadi unik. Dan harus membuang jauh-jauh kata efesien tentunya. Saya pribadi, lebih ‘nyaman’ dengan konsep resto yang biasa saja. Di mana saat datang, saya duduk, saya dihampiri pelayan, saya menyebutkan makanan yang diinginkan (dan itu semua tertera di satu MENU), pelayan mencatat, saya menunggu, makanan saya datang, saya makan, saya kenyang, saya membayar, saya pergi, saya senang. Hore.

Atau sebagai mahasiswa berekonomi yang masih mengandalkan asupan dana dari para tetua, saya lebih suka tempat makan yang tinggal duduk dan ‘asal tunjuk’. Makanan diberikan. Dan saya kenyang. Lalu saya bayar, kemudian pulang. Ya, warteg masih jadi pemikat hati untuk urusan perut. Harga tidak membuat dompet berseriousa sekencang-kencangnya. Peduli setan gaya hidup. Apalagi hidup gaya. Yang penting aku kenyang. Selamat makan, kaum pengerat, makanlah makanan berserat. Tamat. (^o^)v

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s