Menunggu di Pasar

(Ditulis 27 Desember, 2011.)

Minggu pagi. Bertahun-tahun lalu, biasanya saya menemani Mama untuk berbelanja kebutuhan mingguan di pasar tradisional di Kotabumi, Lampung Utara. Saya sangat menikmati kegiatan ini. Berada di ramai kerumunan orang tapi merasa asing dengan membangun dunia sendiri. Ah, sebegitu anti-sosialnya saya dulu.

Pukul lima pagi kami sudah bangun. Sembari menunggu saya subuhan di masjid dekat rumah, Mama telah menyiapkan teh hangat untuk kami berdua. Berbincang kecil selama menyeruput teh hangat, menunggu nyawa terkumpul di satu badan. Tak jarang Mama menanyai saya tentang kondisi di sekolah, seorang teman yang sangat membenci saya entah apa alasannya menjadi topik yang paling saya ingat waktu itu.

Beres dengan secangkir teh, kami berjalan ke depan komplek. Menaiki angkutan kota menuju pasar bersama Mama. Sepanjang jalan biasanya kami meneruskan topik yang belum selesai dibicarakan. Di dalam angkot penuh sesak dengan Ibu-ibu lain yang hendak berangkat ke pasar. Mereka sibuk mengobrol satu sama lain, tak jauh-jauhlah dari penjual beras yang timbangannya tidak pas, harga cabai yang tidak sabaran menetap pada satu titik harga, bahan ini-itu dan lain sebagainya. Jadi ingat kalau saya dulu sempat hafal harga bahan pokok kebutuhan dapur. Bhahahak.

Tiba di pasar, Mama mulai mengeluarkan catatan bahan ataupun barang yang harus dibawa pulang. Mama mengenal baik penjual-penjual di sini. Saya sampai mati kebosanan menunggui Mama yang asik mengobrol dengan penjual ikan. -____-. Jika saya lelah berjalan, Mama membawa saya ke tempat mie pangsit yang sangat enak rasanya. Entah kalau dalam keadaan lapar makanan apapun akan terasa enak saya rasa. Saat saya makan, Mama kembali berkeliling pasar untuk membeli bahan yang belum terbeli. Dengan terpaksa saya harus menunggu di pasar ini. Sendirian.

Bisa dibayangkan jika Mama berbincang dulu ke setiap penjual yang dikunjungi, betapa lamanya saya harus menunggu. Saat Mama kembali tentu saya marah-marah. Herannya, saya tak pernah bosan menemani Mama ke pasar. Mwahahaha.

Di penghujung tahun 2009, pasar ini kebakaran. Sore hari Mama pergi melihat-lihat keadaan lapak teman-temannya. Sebelum akhirnya Mama kecelakaan dan harus pergi selama-lamanya dari dunia. Setelah kejadian ini, saya kembali ke pasar itu, mengunjungi tempat-tempat yang dulu saya kunjungi bersama Mama. Saat lelah, saya ke tempat mie pangsit yang rasanya sangat enak itu. Saya kembali menunggu di sini. Sendirian.

Saya sempat lupa apa sebenarnya tujuan saya ke pasar ini. Malah terpikir bahwa Mama akan kembali, dan saya bisa memarahi dia karena tidak kunjung datang menjemput saya. Sore hari pun tiba, dan tempat ini akan segera tutup (Ya, Kotabumi bukanlah tempat bagi kaum yang ingin merasakan dunia malam, pukul tujuh malam di sini samadengan pukul tiga subuh di Jakarta). Sampai akhirnya saya sadar. Mama tidak akan menjemput dan saya harus terpaksa merengut. Saya tidak bisa lagi memarahi dia yang tidak kunjung kembali. Bhik. My bad. Kini saya musti meneruskan hidup. Terus berjalan pelan, cepat atau bahkan lari sekalipun harus saya lakukan. Terimakasih, Ma. You are everything for everlasting.

Advertisements

4 thoughts on “Menunggu di Pasar

  1. Kamu pencerita yang ulung, saya membaca cerita ini seperti sedang naik rollercoaster, sedetik di atas, tiba tiba terhempas ke bawah :'(

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s