Jalan Menuju Masa Depan

(Ditulis 26 Desember, 2011.)

Bukan, saya bukan ingin menjabarkan kisah luarbiasa inspiratif untuk menyemangati kalian semua. Karena Tuhan telah menciptakan Mario Teguh untuk fungsi itu. Lagi pula saya belum ada apa-apanya dalam mengarungi dunia, dunia sosial saya juga sangat buruk untuk dijadikan motivasi, ih. Kalau boleh melipat jarak, jalan menuju masa depan saya hanya berkisar antara rumah menuju kampus. Dan jika saya melipat lagi jarak yang sudah dilipat, jalan masa depan hanya dari rumah menuju depan komplek. Karena di sana saya akan menaiki angkutan umum menuju kampus. Pusing ah.

Saat pertama keluar rumah, saya akan menemukan jalan yang tidak begitu besar tidak pula begitu kecil, sebut saja itu jalan lumayan, karena memang ngga ada namanya itu jalan, ih. Di jalan itu saya menemukan mobil, motor, dan manusia yang berlalu-lalang menuju arahnya masing-masing. Saya selalu mengamati setiap benda bergerak itu, selain karena saya senang mengamati pergerakan sekitar, itu juga untuk jaga-jaga kalau saya tertabrak saat menyebrang jalan, kan ngga jadi berangkat kuliah *opo toh ndok.*. Setelah keluar dari simpang pertama, saya menemukan lagi warung tetangga yang biasanya dijadikan tempat berkumpul ibu-ibu sambil membawa anak mereka yang masih kecil-kecil. Saya selalu memasang senyum sembari melewati kerumunan manusia-manusia itu, senyum paling manis akan saya berikan untuk mereka walaupun di dalam hati saya berkata “Suami di rumah udah dikasih makan, mak?”. Iya, saya munafik.

Tidak jauh dari warung itu, ada sebuah rumah makan padang yang kokoh berdiri sejak seribusembilanratusempatpuluhlima, supaya ngga ribet bacanya, bisa ditulis 1945. Ihiy. Ngga tau juga sih sebenernya rumah makan padang yang kokoh berdiri sejak ……, oke, kepanjangan, itu berdiri tahun segitu apa bukan. Mengingat tempat itu sudah begitu lusuh, sangat tidak terawat, sepi pengunjung dan efek-efek kuno lain yang melekat. Tapi untuk urusan rasa makanan, hmmmm.. NGGAK ENAK! *emosi.* Saya pernah disuruh kakak membeli rendang untuk bekal makan, rasa rendang itu seperti dimasak saat Idul Fitri tahun seribusembilanratusempatpuluhlima. Hik. Intinya begitu.

Melangkahkan kaki tidak begitu jauh, saya sudah tiba di depan komplek. Di sini biasanya saya berhenti sejenak menunggu angkutan kota sambil makan siomay kesukaan. Banyak penjual kaki lima di sini, tapi saya lebih memilih siomay karena bisa dimakan sambil jalan. Siomay yang saya makan sih sama dengan siomay-siomay lain di peredaran siomay di seluruh jagad endonesa raya. Bedanya cuma, di KECAP nya!!! Kecap yang digunakan si abang siomay bermerk sama dengan kecap pilihan saya seumur hidup. Oh iya, untuk masalah kecap, saya sangat selektif. Terlihat jelas kalau saya ngga waras, kan? Ho’oh.

Begitulah napak tilas jalan menuju masa depan yang sudah saya lipat dan lipat lagi jaraknya. Terkadang, saya melewatkan beberapa hal-hal kecil yang padahal itu terus saya alami. Apalagi saat terburu-buru. Saya selalu lupa, begitu cepat saya menjalani sesuatu, begitu banyak pula hal-hal menarik lain yang saya lewatkan. Ih, apa banget sih. Demi menjaga posting ini tetap elok rupawan, maka dari itu, saya tutup saja sampai di sini dengan membaca, oke, menulis, selesai. Hore. \^o^/

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s