Kusut

(Ditulis 12 Desember, 2011.)

Hari ini, kelas ricuh. Ricuh bukan dalam arti ada perkelahian angkat meja, kursi, dan sebagainya. Hanya saja ricuh karena propaganda paduan semua jenis suara manusia kemudian saling tumpang-tindih dan terciptalah keberisikan yang amit-amit ngga enak didengernya. Kusut, kan? Ho’oh.

Bermula dari bapak X, dosen mata kuliah Y, dan mengajar pada pukul Z yang menginginkan ehm, bukan, menyuruh semua mahasiswa untuk berdiskusi tentang mata kuliah Y itu dan membahas sub bab Yi (Jangan protes kenapa Yi). Maka beliau berkata untuk memilih anggota kelompok masing-masing yang dikepenginin. Kusut, kan? Ho’oh.

Tiba-tiba, semua protes, ehm, bukan, semua kecuali saya protes. Pada ngga mau kalau sistem pilah-pilih manusia di kelas ini diteruskan. Mereka beranggapan bahwasanya *berat dikit pokoknya bahasanya.* jika sistem ini diterapkan untuk bahasan yang berat tadi, dalam hal ini sub bab Yi, maka akan terjadi “kebagian sisa-sisaan manusia di kelas yang ngga ada yang mau pilah-pilih”. Dan artinya itu semua tidak selaras dengan tata krama kehidupan di perkelasan. Saya mulai bingung gimana caranya untuk mengakhiri paragraf ini supaya kusut. Kalau begini-begitu aja jadi kusut apa bukan sih? Kusut, kan? Hore.

Maka si bapak X mulai angkat absen yang hadir pada hari itu, dan sebut nama semua mahasiswa untuk ditentukan kelompoknya. Beres? Belum. Karena ada yang riwil. Ehm, mari saya jelaskan dengan seksama semoga dalam tempo sesingkat-singkatnya. Amin.

Setelah selesai dengan urusan perkelompokan, bapak X mulai duduk dan buka leptop untuk ngapain tauk. Kemudian, ada mahasiswi berjilbab sebut saja Q (udah, jangan protes kenapa Q.) yang sedikit riwil untuk menanyakan, kira-kira begini, “Pak X, begimana kalo yang ngga hadir hari ini? Kan, kasian pak ngga dapet nilai ntarannya.”. Kemudian pak X menjawab “Q, itu mah ngga usah dipikirin sama kamu, karena udah dipikirin sama bapak.”. Kemudian dialog ini berlanjut entah gimana caranya waktu ini pokoknya saya ikutan ketawa aja pas pak X bilang “Ih, dasar Q ini suka riwilin urusan orang”. Tamat? Belum.

Setelah berdiskusi layaknya perkelompokan lain, ternyata waktunya tidak mencukupi untuk diselesaikan hari itu juga sub bab Yi tadi, dan si bapak X memutuskan untuk meneruskannya di pertemuan selanjut-lanjutnya dan menitip pesan kepada semua perkelompokan untuk membahas ini secara serius dan matang-matang jangan seperti mangga untuk rujak yang belum matang dan kecut kalau dimakan. Kusut, kan? Hore.

Lalu hujan datang, eh bentar, turun atau datang sih? Ya itulah yes pokoknya. Saya memutuskan untuk menunggu hujan reda sambil berwifi ria. *dadah-dadah ke timeline yang sudah lama ngga saya buka karena lagi ribet plus kusut.*. Kemudian terpikir, apakah hidup ini awalnya bisa memilih? Maksud saya, seperti bapak X tadi yang tidak mau repot untuk menentukan perkelompokan di kelas, apakah awalnya Tuhan juga begitu? Kemudian calon manusia di akhirat sana saling berberisik satu sama lain, mementingkan calon kehidupan mereka kelak. Dan akhirnya Tuhan tidak tahan, lalu memutuskan untuk menentukan saja kehidupan apa yang akan dijalani si calon manusia nanti. Kemudian semua sepakat. Beres? Belum.

Lantas kenapa masih ada saja manusia yang memprotes Tuhan layaknya dia mendapat kehidupan paling tidak enak sedunia. Dia memusuhi Tuhan karena kebodohan dia sendiri. Padahal kalau dipikir-pikir, bumi siapa yang sedang ia tinggali. Saya bukan ingin menjelma menjadi ustad, pastur, dewa, atau  apalah itu. Saya hanya mulai jengah dengan sikap-sikap beberapa manusia yang baru beberapa saat lalu saya temui. Okay, jika bisa memilih, kehidupan apa yang kamu inginkan? Menjadi anak presiden? Sahabat sejati Paris Hilton? Keponakan jauh Brad Pitt? Atau sulit menentukan apa itu dalam waktu dekat? Kalaupun iya, teruskan saja pola hidup demikian, dan percaya pada reinkarnasi mungkin? Dengan begitu akan menjalani hidup ini setulus hati sehingga di kehidupan berikutnya akan lebih beruntung dari kehidupan yang sekarang? Ini mungkin. Lagian apa salahnya menjadi manusia yang konstan baik apapun tujuannya itu?

Saya mulai pusing lagi ngapain ini sebenernya. Terakhir deh, kalau boleh memilih kehidupan apa yang akan saja jalani dulu, saya hanya ingin menjadi penonton manusia dan menceritakan apa saja tentang mereka. Saya bebas menulis apapun layaknya seperti yang saya lakukan sekarang ini. Saya sedang berhadapan dengan manusia di penghujung masa remaja, terlihat sekali dia keras kepala, sorot matanya tajam, senyumnya elok rupawan *halah.* dan kami saling bertatapan lewat cermin. Saya akan terus mencatat kehidupan anak di cermin itu. Supaya kalau reinkarnasi itu ada, eh tapi gimana cara ngasih taunya? Back up data nya juga gimana? Duh, pusing ah. Semoga kita saling kusut bersama-sama sehingga terciptalah generasi pengusutan alam raya. Salam, apaan tauk. Hore. \^o^/

Advertisements

2 thoughts on “Kusut

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s