Pengorbanan Ato Dikorbankan? [Part 1]

(Ditulis 12 November, 2011.)

Saya adalah orang yang paling tidak pintar dalam hal per-move on-an. Saya bisa larut dalam kesedihan berkepanjangan saat memutuskan hubungan dengan seseorang. Terakhir, saya hanya dekat dengan seseorang, sebut saja itu gebetan *YAK!*, tapi saya butuh waktu enam bulan untuk benar-benar bisa melupakannya. Itupun susahnya amit-amit!

Well, sejak putus dengan mantan yang sekarang, aktivitas saya hanya diisi dengan kuliah, mengerjakan tugas, dan mengajar bimbel sabtu-minggu malam. Bhihihi, saya tidak berharap akan jadi jutawan dengan menjadi staf pengajar matematika di sana, saya hanya tidak ingin larut dalam lingkar galau saat malam minggu tiba yang mana “biasanya” muda-mudi seperti saya menghabiskan malam dengan pasangan dan ya begitulah ya. Lagipula saya hanya ingin memberikan pengetahuan yang saya miliki kepada anak sekolah menengah pertama di sana, dipikir-pikir lumayan juga untuk memenuhi CV saya, toh? :D

Niat awal, bayaran yang saya dapatkan ingin saya tabung untuk mengujungi si mantan di ujung utara sana (sumpah, tiket pesawatnya ngga murah!). Jujur, saya ingin sekali mengobrol panjang bersama dia, berdua saja. Terlebih, saya sangat kagum dengan sosok karismatik dia, pembawaannya yang santai tanpa basa-basi percuma membuat sosoknya amat sempurna di mata saya. Ya, dia berhasil maling hati saya, tapi saya ikhlas. *apadeh*

Setelah pisah dengannya beberapa bulan lalu saya mulai bisa melupakannya secara pelan-pelan. Sampai dia mengabarkan kepada saya, akan datang ke Jakarta. Sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan saya, toh, kami tidak terikat hubungan apapun saat ini, tapi karena saya yang tidak pernah tega terhadap dia, saya hanya membalas dengan candaan berharap dia sedikit tersenyum di ujung sana tapi jelas saya tahu, saya akan selalu gagal menghibur dia.

Momen dia datang ke Jakarta sebenarnya pas sekali saat saya mendapat *uhuk!* gaji pertama saya. Saya memutuskan untuk datang ke Jakarta juga, khusus untuk bertemu dengan dia. Saya jauh hari mengajukan cuti  kepada owner tempat bimbel di mana saya mengajar, tapi tidak pernah diizinkan. Tanpa pikir panjang, saya memutuskan untuk berhenti mengajar di sana. Yang terpikirkan saat itu, saya mengajar hanya ingin mencari pengalaman dan ingin membuktikan omongan kakak yang selalu bilang “nyari uang itu susah” (dan ternyata itu semua BENAR!). Sabtu sore saya berangkat ke Jakarta.

Setibanya di Jakarta, saya langsung duduk (sambil ngopi sih) di Sevel Tendean, dan mengirimkan Direct Message kepada dia, bertanya tentang keberadaannya. Berharap saat itu juga dia langsung membalas dan meminta saya untuk menemuinya di tempat dia berada.

*sejam berlalu*

*dua jam berlalu*

*tiga jam berlalu*

*empat jam berlalu*

Dan pada akhirnya ……  Tidak ada balasan. :'(

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s