Kehilangan teman karena LIKE (?)

(Ditulis 25 Oktober, 2011.)

(gambar bersumber dari hasil pencarian di google)

Tadi malam, saya membuka social media yang sudah sangat lama hilang pesonanya di mata saya, iya, facebook. Seperti biasa, saya hanya mengecek notifikasi pertemanan, membalas komentar, dan mencoba membaca keadaan teman lewat status mereka (serius, rata-rata kayak pingin bunuh diri semua). Dan tiba-tiba saja jendela chat timbul (ato nongol?) dari teman lama, SMP tepatnya dan saya sama sekali tidak pernah dekat dengannya, hanya tegur-sapa saat berhadapan saja.

Di jendela chat, dia membuka obrolan “Tolong like status gue dong” (Barang tentu dalam bahasa yang sangat sulit dimengerti. Semacam campuran alfabet dan numerik ato apalah itu yang saya tidak ngerti tujuannya apa). Jelas, membaca itu yang terpikir pertama oleh saya adalah “BUAT APAH???“. Tapi berhubung saat itu saya sedang mengerjakan perkerjaan sendiri yang rumitnya susah saya gambarkan, saya membalas dengan pesan singkat, padat, dan tanpa campuran angka ato sebagainya “Males.”.

Dan “teman” saya ini membalas dengan rentetan ‘bualan’ yang intinya memaksa saya untuk melakukan kehendaknya itu. Lalu hanya saya balas “emang buat apa sih?“. Dan dia kembali membalas yang tentu saja saya abaikan.

Ini bukan kali pertama saya online di PC lalu ada saja jendela chat yang mengisikan pesan yang sama dengan “teman” saya ini. Mereka berlomba-lomba untuk statusnya adalah mendapat likers terbanyak. Err.. Get a life, men!

Jelas saja tidak saya ladeni, bukannya apa, saya malas untuk memenuhi jendela notifikasi pribadi saya karena itu akan memenuhi inbox email saya juga (saya terlalu malas untuk mengubah aturan ini, ya bad habbit). Karena me-like status semacam itu semacam akar pohon yang terus bercabang, akan muncul orang-orang lain berdatangan (tentu hasil suruhan) dan pasti……ya gitu deh.

Beres dengan “teman” saya yang tadi, muncul lagi satu, dua, tiga, dan yang lainnya. *Tuhan, belum cukup dengan segudang tag sembarangan foto dagangan, facebook membuat saya tidak habis pikir. Seriusan!* Lalu, tanpa pikir panjang *memang karena pikiran saya tidak panjang* saya langsung saja membuat status (errr.. penting juga musti saya tulis di sini?) “Serius deh, emang kalo status di-like banyak orang dapet gaji dari pemerintah-facebook sampe harus minta orang buat like-like-an? Err..“. Dan lalu saya sempat “facebook-war” (Bahahahak!) dengan “teman” saya tadi. Dan, guess what? Saya ditendang sebagai teman dari daftar pertemanan oleh dia. Saya juga sempat dibilang, kurang lebih seperti ini, “Anjing, lo, ngga usah dibikinin status juga kalik. Status lo tu alay semua. Kalo berani ketemu gue njing” <– Lagi-lagi sudah saya terjemahkan ke bahasa kita, bahasa manusia.

Saya sakit hati? Oh tentu…. Iya. Pertama, saya bukan anjing. Saya manusia dan bisa baca tulis menghitung dan menabung layaknya manusia lainnya, lagian kalo saya pipis kaki ngga saya angkat satu kok, serius! Kedua, ngga ada yang lebih menyakitkan dibanding dicap sebagai alay oleh seorang 4L4Y. I’m going to mad. T_T. Dan, oh iya, kalo saya bertemu dia kira-kira apa yang akan terjadi? Ditraktir makan? Dikasih ongkos pulang? Ato hanya rusuh ngga karuan lalu masuk koran karena kami baru saja melakukan perkelahian hanya karena STATUS FACEBOOK dan LIKE-LIKE-AN? Well..

Entah harus saya tutup dengan apa tulisan ini, tapi saya hanya ingin menyampaikan, “Untuk orang-orang di luar sana yang masih melakukan tabiat semacam yang saya alami semalam, emang buat apa sih status kalian dapet likers banyak gitu? Dapet duit? Supaya rame? Kalo mau rame, pasang petasan ato kembang api-nya katy perry sekalian. Dan maaf-maaf kalo kalian menganggap tali pertemanan hanya diukur oleh “ikatan” facebook semata, duh, kemana kalian when my mom has passed away, anyway? Did you all present yourself when it’s happened? No, right? (Kenapa jadi bawa-bawa ini Bi? Suka-suka saya dong ah, bweeeek!) Lagian hidup ini terlalu simple jika dan hanya jika kamu masih berkutat dalam masalah murahan ini, dear :)

See you. Wherever. Hell, perhaps?

*amit-amit*

Advertisements

2 thoughts on “Kehilangan teman karena LIKE (?)

  1. Fenomena ‘LIKE status aku dong!’ kurang lebih sama dgn jaman dulu, jaman Friendster dimana para ABG berlomba banyak2an jumlah FRIENDS. Trs jaman sekarang, banyak2an followers di Twitter. Intinya, number makes those internet-users happy. Dan kalo blogger macam saya, ya merasa senang kalo semakin banyak yg meninggalkan komentar di tiap postingan.

    Sounds so shallow, eh? ;)

    1. What kind of you, :D | Aku sendiri ngga ngalamin jaman friendster itu sih. Jadi pada saat aku baru buat, orang2 sudah pindah ke facebook, How sad :|. Dan menurut aku, emang ngga penting kan, ya? Yowislah, intinya biarkan semua orang menikmati hidupnya masing-masing, bukannya? :D

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s