Ketiak

(Ditulis 30 Agustus, 2011.)

(Gambar diambil dari hasil pencarian di google)

Siapa yang tidak mengetahui tentang “ketiak”? Anggota tubuh yang terletak antara bawah lengan dan uluh hati ini memiliki bau sangat menyengat (berbeda-beda pada setiap orang tergantung cara penanganan). Saat jam pulang kerja, si-satu-ini bisa sangat mengganggu indra penciuman, dan lagi-lagi peran serta si-pemilik menjadi amat keramat bagi orang-orang di sekitar. Saya pribadi, memberikan penghargaan nomor wahid kepada pencipta berbagai produk deodoran, bayangkan dunia tanpa deodoran?? Oke, tidak perlu dibayangkan.. Saya yakin, Bus Transjakarta saat jam pulang kerja hanya akan diisi oleh orang-orang yang terserang flu ato orang yang sedang terburu-buru dan terpaksa naik dengan kondisi jepitan jemuran menempel di hidung mereka, kalik..

Jujur, saya baru mengetahui kata baku “ketiak” ini. Awalnya saya hanya mengenal istilah “ketek” dan itupun dari Ayah yang seketika marah kemudian mengatakan “Ketek Mama”, ketika saya terus menguntit kemanapun Mama pergi [saat saya sedang duduk di bangku sekolah menengah pertama]. Tapi, kenapa harus ketiak?? Padahal saya tidak sedang bergelantungan di ketiak Mama saat itu. Hmmm, entahlah, istilah “Ketiak Ibu” bisa berarti seorang anak yang terus menggantungkan semua urusannya kepada sang Ibu. Salah? Terserah deh.. Agak heran, kenapa semua organ tubuh jika disandangkan dengan Ibu pasti memilik arti lain?? Ketiak Ibu, Telapak Kaki Ibu, Kaki Tangan Ibu (ngarang), then, what did I miss?

Sebegitu sakral memang peran seorang Ibu. Memberikan perhatian, mengasihi seorang anak, dan kegiatan-kegiatan yang terlihat sepele padahal sangat penting untuk hadir di kehidupan. Dulu, saya sangat merasa angkuh ketika Mama mengusap kepala saya saat hendak berangkat sekolah. Saya menganggap itu berlebihan, apalagi setelahnya saya menjadi bahan ejekan teman-teman di sekolah (yea, called that “anak mami”, situ lahir dari bapak, heu?). Sekarang beda lagi, justru belaian hangat seorang Ibu menjadi sesuatu hal yang amat mahal untuk saya dapatkan. Di momen lebaran kali ini misalnya, dua tahun lalu, bermaafan dengan Mama adalah hal wajib yang saya lakukan, dan metode bermaafan yang saya punya sedikit lain dari kakak-kakak saya. Jadi,  saya akan berlutut di pangkuan Mama, kemudian mencium ketiak Mama sangat lama sebelum saya mencium hangat pipi Beliau. Entah kenapa, aroma dari ketiak Mama seolah memanjakan saya untuk tidak cepat melepas ciuman saya. Mama selalu tersenyum setelahnya dan akan bilang “Aneh, kamu, nak. Terimakasih ya”.

Sekarang, lebaran telah datang, saya mohon maaf apabila selama ini kesalahan terselip di setiap atraksi sosial yang kita jalin, mohon sebesar-besarnya. Saya tidak mungkin lagi dapat mencium aroma ketiak seseorang, dan mendengar ucapan bahwa saya anak yang aneh, ato ada yang mau bilang, sekarang? Biarkan kenangan itu saya simpan dalam memori otak-lambat saya. Dan saya belajar bahwa, kenangan semanis apapun pasti dapat menyakitkan jika diingat, namun setiap manusia perlu mendapatkan sakit, karena dari sanalah Tuhan melakukan perannya, mendidik setiap dari kita. Well, selamat hari raya idul fitri, nikmati hari bersama keluarga, semuanya \m/

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s