Hak Untuk Tidak Mendengar

(Ditulis 10 Agustus, 2011.)

Setiap manusia, saya yakin kamu juga, terlahir dengan dua telinga untuk mendengar dan satu mulut untuk berbicara. Apakah ini pertanda, bahwa manusia harus lebih banyak mendengarkan ketimbang berbicara?

Pernah kalian menghadapi situasi ini?

  1. Berhadapan dengan manusia otoriter, sok merasa benar, dan melihat fakta yang ada berdasar pada diri dia saja?
  2. Terpaksa mendengarkan perkataan setan yang dia ucapkan, dan belum merasa pintar (ato otak sedang bebal) untuk melawan?
  3. Mau berargumen kasar (seperti yang dia lakukan), tetapi sangat menghormati adat ketimuran, oke, yang MUDA harus menghormati yang TUA?
  4. Pilihan terakhir, hanya DIAM, dan membiarkan kata-kata hina dia menyakiti hati sendiri?

Saya masih bingung apa yang harus saya lakukan ketika menghadapi hal-hal seperti itu. Jika begini, saya lebih berharap ‘Hak Untuk Tidak Mendengar’ saya dijamin oleh Negara daripada hak saya untuk berpendapat diberikan tapi masih dengan embel-embel “Anak Bau Kencur” (Sumpah, saya tidak tahu bagaimana bentuk kencur).

Oke, saya tidak menemukan penyelesaian semua ini. Biarkan imajinasi saya bekerja dan menemukan seorang kepala sekolah yang pernah berkata seperti ini..

Suara seorang anak, betapapun jujur dan benar tak ada artinya bagi mereka yang lupa caranya mendengar” -Albus Percival Wulfric Brian Dumblerdore-

Saya harap beliau bisa membantu..

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s