Dia atau Saya?

(Ditulis 10 Agustus, 2011.)

Monyet lu..” kata seorang teman saat menganggap tingkah saya yang mulai binal. Oke, entah apa yang teman saya pikirkan ketika itu, sampai dia harus mengibaratkan saya dengan sebutan “monyet”? Maksud saya,  kemana binatang-binatang lain? Mungkin, memang pengetahuan per-binatangan dia yang sempit dan kemungkinan lain seperti, dia mempunyai kenangan buruk bersama monyet, ato jangan-jangan dia seorang monyet? Entahlah. (you-know-what, ini semakin panjang, right?)

Saat kecil, kakak pernah memberitahu saya, bahwa MANUSIA, dan itu SAYA, memang berasal dari monyet. Entah teori apa yang dia percaya (Darwin, mungkin..), dia menyebutkan kalo nenek moyang manusia adalah seekor (seorang??) monyet. Pada saat itu, dia bermaksud menghina saya dengan membubuhkan ilmu pengetahuan kedalam joke murahannya, tapi sepertinya dia lupa kalo saya adalah adik kandungnya, dengan kata lain kami mempunyai nenek moyang yang sama, dengan begitu, dia juga keturunan monyet, heu? (you-know-what-again, ini makin kusut, men!!)

Jika monyet adalah saya (????), entah berapa banyak monyet yang bersin ketika manusia mulai mengumpatkan cacian menggunakan nama dia (Eh, memang monyet punya nama?) Saat tulisan ini dibuat, saya baru saja mengamati tingkah beberapa monyet saat berhadapan dengan manusia. Ada monyet yang hanya diam seolah tak terjadi apa-apa, ada pula yang gusar ketika saya mendekatinya, dan saat saya berhadapan dengan ibu-monyet, ibu-monyet terus menggendong anak-monyet. Dari tingkahnya, saya rasa ibu-monyet sangat menjaga keselamatan anak-monyet, dan teman-teman-monyet disekitarnya (entah itu anggota keluarga-monyet?) juga ikut membantu ibu-monyet, mereka memasang muka tak senang, dan raut muka seperti itu, saya mengerti bahwa para monyet tidak menyukai keberadaan saya di dekat mereka (bahkan monyet, pun? Oh God..). Dan entah darimana pula saya mengerti bahasa monyet?? Mungkinkah ini pertanda kalo saya…………… oh, bukan, tentu bukan.

*mikir gimana caranya supaya tulisan ini gak jadi boomerang untuk diri sendiri*

Dear, teman, mungkin kamu benar, kalo saya (oke, iya..) Monyet, tapi kamu tidak mengerti jika monyet selama ini bukan binatang yang buruk juga. Dibalik bentuk muka mereka yang satu motif (saya tidak bilang jelek, *lah ini?*), tapi mereka punya tenggang rasa yang tinggi. Mereka melindungi satu sama lain jika keberadaannya terancam, seperti yang saya bilang tadi entah itu keluarga ato memang mereka memiliki rukun-tetangga-monyet yang diterapkan sempurna, persetan itu semua. Bandingkan dengan sifat manusia selama ini? Yang saya alami sekarang ini, teman, bahkan seseorang yang terikat garis keturunan, sama sekali tidak peduli dengan keberadaan satu sama lain. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ohh, saya merindukan kebersamaan bersama orang-orang terdekat saya, berkumpul, bertatap muka, ato setidaknya saling mencarikan kutu sesama, lah monyet dong? Oke, saya mulai bingung apa tujuan saya menulis ini, dan silakan anggap saya monyet, tapi ketahuilah, saya adalah se’orang’ monyet yang sedang menjalani kehidupan diantara manusia-manusia jelmaan monyet, deal? Malam.

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s