Tiiinnn..

(Ditulis 23 Juli 2011.)

Hal yang paling menyebalkan tapi tetap harus saya lakukan setelah berkegiatan adalah melewati kerumunan kendaraan di jalan raya (kecuali kelak saya ditakdirkan menjadi petinggi negeri ini ato bahkan mendapatkan tumpangan khusus di dalam ambulance, eh amit-amit). Semua manusia terjebak dalam kemacetan, entah itu karena kebodohan seseorang di persimpangan jalan yang tak sabaran menyerobot kerumunan kendaraan yang (akhirnya) turut serta menyumbang kemacetan, tukang parkir yang seenak jidat mengatur lalu lintas seolah dia lah pemegang saham tertinggi dalam pembuatan jalan, dan hal-hal lain, jika semua ini terus dirincikan penyakit darah rendah saya akan hilang (Yes, bye-bye kambing).

Sebagai pengguna sejati kendaraan umum, saya tidak mengerti benar aturan dalam berkendaraan. Yang saya tau jelas (dan saya mulai terganggu dengan ini), membunyikan klakson saat lampu merah baru berganti itu, GANGGU. Memang, kadang ada saja pengendara di deretan paling depan tidak langsung sadar bahwa lampu sudah hijau, tapi puhless deh, membunyikan klakson setiap dua detik sekali selama lebih dari satu menit itu bikin budeg kalik.

Dan dari pengamatan sepihak yang saya lakukan, klakson juga dapat menandakan kondisi mental si pengendara, misal;

  1. Satu kali klakson pendek; pengendara memberitahukan kendaraan di depannya untuk jalan, saya sering dengar ini saat berada di lampu merah.
  2. Satu kali klakson panjang; tandanya pengendara mulai jenuh dengan keadaan lalu lintas (gue juga, Mas), ato ada penyebrang jalan yang tiba-tiba muncul (setan kali ah).
  3. Lebih dari satu kali dan beruntun teratur; tipe pengendara ini sulit untuk saya tebak, kondisi internal si pengendara menjadi faktor dominan ini semua, dan urusan rumah tangga pasti lah penyebabnya (Iya, gue sotoy).
Dari tiga pengendara tipe diatas, saya lebih nyaman dengan pengendara yang “tidak membunyikan klakson”. Pasti tipe pengendara ini banyak disukai pengguna jalan lainnya, terutama saya. Dia mengamalkan fungsi klakson dengan benar, tidak ikut sumbang suara di lampu merah, eh, ato jangan-jangan klaksonnya rusak? Duh.. Menurut imajinasi babu yang saya miliki, kenapa bunyi klakson itu tidak beragam, err, maksud saya bunyinya pasti standar “Tiiinnn” ato suara-suara lain yang kurang nyaman dan menghibur. Pernah kah terpikiran untuk mengganti bunyi klakson dengan lagu-lagu yang sedang hits? Jadi saya tidak perlu lagi berkesal ria dalam perjalan pulang, malah saya akan amat menikmatinya. Bayangkan, kelak, betapa banyak manusia yang menanti-nanti bunyi klakson di jalan raya, pengendara satu dengan yang lainnya juga dapat berbagi playlist dan saling ngobrol di jalan jika selera musik mereka kebetulan sama. Waw, ide cemerlang, kan? Tapi, babu tetap lah babu, dan majikan akan selalu ganggu, saya harus puas mendengar kekesalan semua pengendara jalan lewat klakson yang mereka bunyikan, dan daripada harus kesal sendirian, saya akhirnya ngetwit untuk mengisi waktu di jalan dan menyalurkan kekesalan, tapi saya bingung harus ngetwit apa, tapi mungkin begini “#nowplaying – Klakson Jalanan” sangat mewakili perasaan, damn!
Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s