Review Kicau Kacau

(Ditulis 29 Juni, 2011.)

Gila. Indra Herlambang mengeluarkan buku, sedangkan ini tanggal tua. Tabungan saya tersita sempurna oleh kakak karena saya yang semena-mena menggunakan tanpa berpikir sebelumnya. Sebagai anak kosan di akhir bulan, pasti Kalian pada tau kan.. *Woy kenapa curhat*.

Cuma sampai disini? Bah.. Saya tidak boleh menyerah. Sebagai generasi muda, disini lah jiwa patriotisme saya diuji *gak ada hubungan-nya Nyet*. Oke, saat saya membaca timeline Indra (maaf, sok akrab), kebetulan [jika memang Kalian percaya terhadap sebuah “kebetulan”], Indra sedang mengadakan kuis dadakan berhadiahkan Buku KicauKacau. Errr.. Walopun dibutuhkan usaha yang membuat diri harus sejenak mengesampingkan kesehatan jiwa, Indra mengadakan games “Foto Burung Kacau“, dan diaplod ke twitpic/plixi/yforg lalu mention ke @indraherlambang dengan tambahan hashtag #KuisKicauKacau. Dhegh, memang tak ada yang mudah di dunia ini, kawan!!.

Sebelumnya mari saya jelaskan kenapa saya ingin sekali membaca buku ini, Indra, menurut saya sosok luar biasa cemerlang. Dia sangat interaktif saat menjadi presenter di bebagai tv swasta, dan lebih lagi *Dia pernah menjadi penulis terbaik bersama Djenar Maesa Ayu di Anugrah Film Indonesia (*Silahkan koreksi sepenuhnya, karena bilik kecil otak saya tak mampu mengingat dengan jelas itu semua).

Atas dasar itulah saya sangat menggebu untuk mendapatkan buku itu. Maka usaha saya pun dimulai. Setelah jepret sana-sini di webcam leptop saya, dan menggunakan software pelawan ketentuan Tuhan (Photoshop, red). Maka jadilah file .jpeg yang saya beri nama “Usaha Kuis Kicau-Kacau“. Setelah saya aplod dengan ketentuan berikut diatas, sekarang saya tinggal duduk manis, menunggu dewi fortuna datang saat gerimis.

Peserta yang ikut lumayan mengancam, mengancam disini bukan lebih bagus dari milik saya. Maksudnya, foto mereka begitu amat nista. Rela menurunkan citra diri sendiri, ada yang melipat bibir sedimikian rupa hingga jadilah lipatan bibir 7 senti, sangat menyerupai burung pipit kena kutuk. Foto saya sendiri mengusung sebuah tema seperti  komik dengan beberapa foto yang saya ambil. Reaksi dari followers saya pun macam-macam, ya kebanyakan pada bilang “unyu”, gitu (Silahkan diludahin)

Dan Indra memberitahukan pemenang-nya, Yaaaaakk, saya tidak menang, entah ada yang salah ato begimana dengan mata batin Indra, foto “unyu” saya tidak menggugah hati Indra untuk memilih saya sebagai pemenang. Ya apa mau dikata, di hidup saya, memang harapan selalu tidak sesuai dengan kenyataan *Mas, jangan curhat, Mas*.

Eits, ternyata dewi fortuna datang kepada saya, memang gak lagi gerimis jugak. Salah seorang yang membuat saya tertarik dengan dunia kepenulisan, membaca timeline saya dan menghargai semua usaha saya. Dia mengirimkan DM, menanyakan Alamat, ternyata Dia ingin memberikan buku Kicau Kacau untuk saya [nama tidak disebutkan, karena belum ada ijin antara kami bertiga, ya bertiga]. Waw, mulai saat itu saya percaya wisdom, bahwa “Tuhan tidak pernah mengantuk mengamati usaha manusia, apalagi tidur” *mulai ngarang*. Cerita panjang mengalir begitu saja, mulai dari buku yang tak kunjung sampai akibat nyasar ke tetangga sebelah. Mungkin, Pak Pos sudah begitu tua, dan Beliau lupa semua alamat diberbagai sudut kota akibat lama duduk diam, hanya berkerja saat lebaran, mengirim kartu ucapan, itupun saya sangsi masih ada yang peduli.
Sekarang buku sudah di tangan, mari membaca!! Hanya butuh satu hari [tidak mandi, plus makan satu kali] untuk membaca habis semua lembar Kicau Kacau, setelah selesai, saya terdiam, dan berucap kecil “Gilaaak, Indra keren the max”.

Kicau Kacau merupakan buku karya Indra Herlambang [ya iyalah], di dalamnya memuat semua pikiran cerdas seorang Indra Herlambang. Satu judul yang saya suka, yaitu “Menginjak-injak Ibu-Bapak”. Disini Indra menceritakan “penyesalan” karena saat kecil Dia disuruh menginjak punggung Bapak [saya sendiri mengalami ini, entah tradisi ato apa, Bapak saya selalu rewel jika dulu saya menolak permintaannya utk menginjak-injak pungung Dia] dan Indra melakukannya dengan sedikit gumaman melawan, dan kebiasaan ini [Menginjak Punggung Bapak] sudah tidak dapat Indra lakukan saat Dia beranjak besar.

Selama membaca, rasa nikmat yang saya rasakan. Seolah saya ikut menelusuri gang sempit ato labirin membingungkan pikiran Indra Herlambang. Pandangan Indra terhadap setiap peristiwa kecil yang diangkat, membuat cerita tersendiri untuk para pembaca.

Disini saya tidak menggebor-geborkan ato memaksa Kalian semua untuk membaca, toh Kicau Kacau sudah beberapa kali cetak ulang *apa hubungannya*. Saya hanya memberikan pandangan terhadap karya cemerlang, seorang Indra Herlambang. Dear, Indra Herlambang, saya sangat suka dengan karya tulisan Anda. Ditunggu buku kedua, ketiga, dan seterusnya. Dan kalo ada kuis [lagi], Tentu-nya menangkan saya ya *eaaaa*. Salam, @ibnuhabibi

Advertisements

4 thoughts on “Review Kicau Kacau

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s