Jersim (Jeratan The Sims)

(Ditulis 22 Juni 2011.)

Ouch. Saya ingin rehat sejenak dari setiap liku sulit kehidupan dengan memainkan hidup di dunia lain (bukan, bukan acara setan-setanan), maksud-nya, saya akan bermain game yang dapat menjalankan kehidupan dari sisi lain pribadi saya (kok ribet ya). Oke, saya mau main The Sims 3!!!

Awal mula mendapat game ini, karena saya kepincut sama abang yang jualan kaset di jalan ganeca. Niat awal sih cuma jalan-jalan sore sambil menikmati sejuk-nya udara bandung. Berhubung si-abang kaset terlalu terlatih, maka saya putuskan untuk beralih (halah).

Sebenernya saya sudah lama tau ada game hina ini (kata “hina” bukan makna sesungguhnya), dan saya pun sadar begitu banyak korban berjatuhan yang rela mengalihkan kehidupan-nya demi sebuah game. Saat tahun 2008 lalu (tepatnya waktu kelas 3 SMP) saya sempat menjadi salah satu korban dari game ini, waktu liburan selama 3 minggu hanya saya habiskan di depan layar komputer. Menyedihkan memang, terlebih saya gak pernah tau ada kabar burung apa yang berseliweran diluar sana, untung-nya berkat pukulan kayu rotan dari Mama (karena saya meninggalkan waktu solat juga), saya berhasil lepas dari “jersim” (Jeratan The Sims) *sujud syukur*.

Sekarang 2011, saya resmi menjadi korban The Sims lagi, versi yang saya mainkan cukup update, saya bisa jalan kesana-kemari tanpa takut dimarahi, toh saya yang mengontrol dunia ini. Saya bisa memutuskan dengan siapa saya menikah, saya bebas membuat rumah mewah tanpa harus bersusah payah, dan keleluasaan gila lain yang bisa saya lakukan, oh indah-nya, seolah saya pernah menapakkan kaki diatas surga sana.

Saya heran, sebenernya apa yang “pembuat” game ini rasakan saat mendapat ide untuk mencipta game menyesatkan ini? Apakah si-maker bosan dengan kehidupan sendiri? Berhubung Dia adalah manusia berambisi tinggi yang mulai stress karena tak satupun niat sukses yang ditanggapi oleh Tuhan (Jangan curhat, Bi). Ato kenapa? Saya sendiri memainkan game itu karena alasan yang sama, saya bosan dengan kehidupan yang begitu-begitu saja. Dan Tuhan seolah bungkam dengan ratusan pesan yang saya kirimkan lewat sebuah ritual yang biasa disebut “Doa”. Apakah Tuhan begitu angkuh-nya sehingga sulit memaafkan hamba-nya yang sangat bandel untuk mudah percaya bahwa kasih sayang Ayah itu ada? Jika terus begini, jangan-jangan saya akan terus abadi menjadi bayi bernama “Bibiii” dengan layar atas leptop bertuliskan “The Sims 3”. Entahlah..

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s