Awal Dua-Lima

Sejak kecil ia berpola tidak biasa. Dunia, bagi ia, adalah wadah besar yang tertuang sejuta misteri belum terpecahkan. Ia pernah membongkar jam tangan milik ayah padahal itu baru saja dibeli. Alasannya? Ia hanya ingin melihat apa yang membuat jarum kecil di dalam sana berputar tanpa henti. Ia pernah membuat kaca pembesar dari bekas bohlam yang sudah mati. Kegunaannya? Untuk melihat lebih jelas barisan semut-semut di parit depan rumah.

Ia anak mami. Begitu ledek teman-temannya. Yang kemudian membuat kepalanya memutar terus argumen tadi.

“Anak mami?”

“Lho memang kalian bukan? Lalu dari mana kalian sampai ke dunia ini?”

Suatu malam, tanpa angin dan hujan, ia berkata kepada ibunya,

“Kalau sudah tidak lagi di dunia, tolong tetap datang menyampaikan kabar ya.”

Dua tahun kemudian intuisinya benar.

Hati ia remuk. Bukan, dunia ia remuk.

Lima, enam, .. tahun berselang, saat dunianya dilanda kerisauan, pesan singkat sampai di kepala.

Schrodinger’s cat. Schrodinger’s cat. Schrodinger’s cat.

Kabar tadi tiba. Ia tahu benar ibunya tidak akan pernah ingkar.

She’ll be his forever ghost.

Advertisements

terusik kenangan Bapak

saya tumbuh dalam situasi yang membuat benci kepada ayah sendiri adalah pilihan paling rasional untuk dilakukan. “Bapak”; saya memanggil beliau. menurut saya yang belum dewasa, Bapak kala itu adalah orang yang aneh. anomali dari dunia yang saya ketahui. ia berbicara tanpa saringan. ia membentak seperti tidak pernah duduk bareng dengan sopan santun. ia memukul saat semua berlari di luar batas. tentu takaran penilaian di luar batas akan selalu ambigu. hanya ia dan Tuhan yang boleh tahu. di luar ini semua, Bapak adalah muslim yang taat. Bapak hobi menyantap kitab-kitab. yang membikin pengetahuan ia di bidang agama selalu memiliki referensi-referensi utuh.

namun simpan sisi ini untuk cerita di lain hari ‘ karena ada satu memori yang tiba-tiba mengusik saat hendak berangkat tidur tadi.

suatu hari Bapak pernah terganggu saat rumah ibadah di dekat rumah membunyikan lantunan ayat-ayat dengan volume yang sulit untuk ditoleransi. Bapak kala itu menegur pengurus rumah ibadah untuk memelankan suara-suara tadi. namun respon yang Bapak dapat justru tidak sesuai apa yang ia harapkan. Bapak dicap tidak pro kepercayaan tertentu. kemudian Bapak menjadi bahan gunjingan lingkungan sosial.

pada saat itu saya tentu malu. dampak kejadian itu mau tidak mau imbas ke orang-orang terdekat Bapak. saya memendam segunung kekesalan kepada Bapak.

namun sekarang saya sudah tidak. malah kalau Bapak masih bisa menerima apa yang hendak saya sampaikan sekarang, semoga bisa membuat Bapak senang.

kudos! Pak. i should’ve been proud of you. anyway, i am now! 

tabik, Pak. semoga bahagia di dimensi seberang.

Menumpahkan Sebuah Puisi

Kaududuk kesepian walau tengah berlangsung sebuah keramaian

Gerombolan orang-orang di hadapan

Membicarakan isu yang kau tak menaruh barang secuil kepedulian

Kenapa semua ini perlu dibicarakan, kau memendam

 

Lantas apa yang perlu dibicarakan?

 

Tidak ada, rupanya.

 

Hidup hanyalah soal ritual kewajiban-kewajiban kasual

Satu Dua Hal yang Dulu Mengganjal

Beberapa langkah lagi umur akan menginjak seperempat abad dikurangi satu. Di umur segitu segini, saya memandang dunia sudah dengan kacamata yang berbeda. Bagaimana, ya. Coba saya jabarkan saja ya..

  1. Umur hanyalah masalah angka. Pencapaian orang lain di periode umur tertentu bukanlah tolok ukur yang pas untuk dijadikan referensi pribadi. Dulunya saya memandang bahwa hal semacam ini bekerja mutlak namun saya salah. Ambil waktumu, gunakan sebisanya. Gunakan seperlunya.
  2. Kamu tidak bisa mendapatkan hal-hal sekaligus untuk jangka yang panjang.
  3. Dunia ini bukan tempat yang sempurna–dan itu tidak mengapa.
  4. Senyum. Itu akan membuat beban di pundakmu terangkat setengah.
  5. Apa pun yang terjadi, hal-hal negatif di dalam diri bukanlah komoditas yang baik untuk dibagikan ke sekitar.
  6. Hanya karena orang lain membuatmu geram, kamu tidak perlu membalasnya dengan hal setimpal.
  7. Memaafkan adalah cara terbaik kedua untuk tetap membuat tubuhmu sehat.
  8. Tertawa adalah cara terbaik yang pertama.
  9. Tidak semua orang bersifat baik. Pun itu bukan soal yang perlu dipecahkan.
  10. Pula tidak semua orang bersifat jahat. Terbuka saja untuk segala kemungkinan.
  11. Adaptasilah. Menolak semua hal hanya akan membuatmu cape.
  12. Tidur cukup. Cicil kalau tidak memungkinkan.
  13. Makan teratur dan cermat memilih makanan. Tubuhmu butuh asupan.
  14. Di dalam satu titik, hidup akan menuntutmu untuk menjadi rigid namun tetap spontan.
  15. Pesan Ibuk, “Jangan sembrono.
  16. Berbicanglah dengan segala kelas ekonomi manusia, kamu akan terkejut bahwa kamu bisa belajar banyak hal dari mereka.
  17. Pilihannya hanya ada dua, belajar kemudian berbuat salah atau berbuat salah kemudian belajar. Namun satu yang perlu diingat, jangan dua kali mengulangi kesalahan yang sama.
  18. Dunia tidak perlu mengetahui kisah sedihmu.
  19. Bijaksana menggunakan uang.
  20. Berteman dengan banyak orang. Terus sendiri berpontensi menjadikanmu orang yang jahat.
  21. Namun tidak apa pula untuk melakukan hal-hal sendirian.
  22. Kematian urusan sang maha, bukan kuasamu untuk memikirkannya.
  23. Jangan memikirkan hal yang tidak bisa kamu ubah.
  24. Schrödinger’s Cat.

Itu saja.

Contemplating the Conundrums

I don’t know how to start or ending this sort of notion that I myself has brought to me, but lemme..

Saya sedang berada di tengah sesi berkemas untuk keperluan mudik–frasa yang digunakan the majority untuk menyebut pulang kembali ke mana mereka berasal untuk bertemu sanak-saudara dan bertukar cerita. Saya tidak menolak sepenuhnya konsep atau ide di balik ini semua, malah saya sependapat agar perputaran modal tidak terjadi di satu tempat, untuk itulah mudik diciptakan dan terjual ke orang-orang.

Umur saya dua puluh tiga, sudah dua tahun terakhir saya tidak kembali ke rumah yang orang tua saya bangun dan bertemu empat keluarga yang pernah berada dalam satu rahim dengan saya, secara bergantian tentunya karena saya bukan kembar lima. Alasannya kenapa ya. Neuron pros di kepala mencoba mencari alasan dan mari saya jabarkan:

  • Jauh–iya. Jauh. Dari Jawa Tengah menuju ke Selatan Sumatra itu jauh. Saya tahu bisa ditempuh dengan pesawat dan moda transportasi lainnya. Saya hanya tidak melihat costs yang dibutuhkan dengan benefits yang saya dapatkan berada dalam posisi seimbang. Saya tahu ini terdengar konyol, tetapi pernahkah kalian merasa bahwa saat pulang sudah tidak lagi di sana? Saat sudah berada di sana, masih ada yang terasa kurang? Pulang sudah menjadi kurang.
  • Harapan orang-orang. Saya tidak bisa mengemban dan menaruh beban harapan orang-orang di pundak saya pada seketika waktu. Harapan orang-orang agar saya menjadi manusia dengan kriteria tertentu bukanlah sesuatu yang saya inginkan saat saya hanya ingin bersantai, membaca buku, dan menikmati diri ini apa adanya. Bukan, bukan pertanyaan kapan kawin itu (btw kalau ditanya begitu jawab saja memang harus ya?–thanks to @Roryasyari), harapan yang lebih kepada rasa penasaran orang-orang tentang apa yang telah saya alami, keputusan apa yang saya ambil, dan beban cerita lain yang saat saya hanya diam, mereka tidak akan terima. Cerita-cerita yang sebenarnya sudah tidak ingin saya ceritaulangkan tetapi saya tetap memiliki beban moral untuk mengatakan kenapa saya menjadi seperti saya yang sekarang ini.
  • Not to tell what you guys doings are wrong. Ini yang paling sulit. Untuk tidak mengatakan apa yang sedang orang-orang lakukan itu salah. Bahwa seolah saya datang untuk membawa cara terbenar untuk melakukan segala sesuatu. Bahwa diam saya tersiksa dan berkata saya tak kuasa. Oh tell me what is worse.

Itu saja sepertinya. Sekarang giliran neuron cons ambil bagian:

  • You should not have forgotten where you came from. People’s objectivity isn’t your luggage to claim. Let them be what they want to be. Now you can think this as a contemporary thought. You are just doing what you should be doing. Enjoy yourself. Be yourself. I’m sorry I cannot be against you. I love you bib.

So it speaks.

Tahun ini saya hanya akan berada di rumah sahabat. Bercengkrama dengan mereka yang tidak menaruh harapan apa-apa terhadap saya. Yang mengizinkan saya diam. Tertawa. Diam. Tertawa. Sedikit berbicara. Repeat.

I hope whoever reading this will find this as a reflection if you may.. For not taking things for granted until it disappeared then you have to build things from zero point.

Because it’s tiring.

Ied Mubarak!